Susu Formula: Bantuan atau Petaka

Pasca gempa di Yogyakarta bulan Mei 2006, bantuan susu formula diberikan sejumlah pihak di tujuh kabupaten yang rusak parah. Hampir 80% bayi berumur 0-2 tahun mengkonsumsi bantuan susu formula, ini menyebabkan bayi yang sebelumnya mendapatkan air susu ibu (ASI) beralih ke susu formula. Menurut penilitian Badan PBB untuk urusan anak (UNICEF), ”Kasus diare pada anak di bawah dua tahun dua kali lipat dibandingkan mereka yang tidak menerima bantuan susu formula”.

Specialis UNICEF untuk gizi Anna Winoto menyatakan hal itu di Bogor, awal Agustus, dalam diskusi dan lokakarya jurnalis bertajuk “Donasi Susu Formula dan Makanan Bayi: Tulus atau Bulus?” yang digelar di Hotel Novotel, Bogor Jawa Barat. Acara ini digelar atas kerjasama UNICEF, Mercy Corps dan Koji menghadirkan kalangan ahli kesehatan dan lembaga penanganan bencana.

Dr. Utami Roesli sebagai pengurus Sentra Laktasi Indonesia mengatakan, “Salah besar, ibu korban bencana sulit mengeluarkan ASI akibat trauma pasca bencana. Sebab, dalam kondisi apa pun secara alamiah seorang ibu tetap bisa menyusui. Masalahnya, banyak ibu-ibu yang tergiur dengan produk susu yang sarat dengan iklan menyesatkan. Padahal susu formula yang banyak beredar nilai gizinya tak lebih baik dari susu hewan sekalipun. Belum lagi cara penggunaannya, botol dan dot yang digunakan untuk minum kalau tidak steril malahan memicu beragam bakteri berbahaya. Dengan demikian tidak ada yang lebih baik ketimbang ASI ekslusif.

Ketua Persatuan Perinatologi Indonesia (Perinasia) Dr. Asti Praborini menyatakan hal senada. “Kalangan ibu berpendidikan tinggi sekalipun masih ada yang salah kaprah. Masih ada anggapan anaknya akan menjadi bodoh bila tidak minum susu formula, padahal menyusui bukan hanya sekedar memberi nutrisi, tapi juga melibatkan unsur emosi bagi anak,” tegasnya.

Tenaga kesehatan pun kurang memberikan informasi mengenai manfaat ASI dan bagaimana cara pemberian ASI yang benar untuk para ibu. Tak jarang ada yang merekomendasikan pemberian susu formula dan saran itu seringkali diikuti oleh para ibu yang tingkat pengetahuan dan kesadaran akan pentingnya ASI masih rendah.
Sementara itu, dalam Proyek Sphere Piagam Kemanusiaan dan Standar Minimum dalam Respons Bencana tercatat susu bubuk atau susu cair yang dibagikan sebagai satu komoditas tunggal tidak boleh dimasukkan dalam suatu pembagian makanan tambahan yang dibawa pulang karena pemakaiannya yang sembrono akan menimbulkan bahaya kesehatan yang serius. Ini khususnya relevan dalam kasus anak-anak kecil, yang sangat berisiko tinggi terhadap pengenceran yang tidak tepat dan kontaminasi bakteri.

Berbagai fakta buruk mengenai pemberian susu formula terjadi karena minimnya informasi sekitar hal tersebut. Pengurangan risiko pun dapat terjadi bilamana penyebaran informasi mengenai ASI ekslusif dapat tersosialisasi dengan baik ke semua lapisan masyarakat. Ironisnya, berita yang beredar di media massa seputar bencana lebih menekankan perlunya susu formula dalam jumlah banyak walau pun tidak didukung dengan data konkret seberapa mendesaknya kebutuhan itu dan apakah keperluan itu membantu kesehatan anak.