InaTews, Konsep dan Implementasi PRB Tsunami di Indonesia

5 menit pertama setelah gempa adalah milik BMKG untuk menyiapkan dan mengeluarkan “warning tsunami”. Selanjutnya menjadi urusan berbagai instansi terkait untuk menyampaikan kepada masyarakat yang daerahnya terancam.

Hal ini dikemukakan Kepala Bidang Bina Operasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Hendri Subakti dalam Workshop tentang Media menuju Indian Ocean Wave (IO WAVE 09) yang berlangsung di Le Meridian Jakarta (12/8). Mengacu pada pola diseminisasi BMKG. Warning Tsunami di kirim ke institusi interface melalui berbagai macam media komunikasi seperti satelit komunikasi,jaringan GSM, internet, telepon, gelombang radio. Sedangkan institusi interface yang dimaksud adalah Pemda Provinsi, Depdagri, Polri, TNI, Media, Operator GSM, BNPB dll.

Indonesia terletak di daerah dengan tingkat aktivitas gempabumi yang tinggi, sebagai akibat bertemunya tiga lempeng tektonik yakni Samudera India – Australia di sebelah selatan, Samudera Pasifik di sebelah Timur dan Eurasia. Sejak tahun 1991 hingga 2008 tercatat 25 kali gempa dan 9 kali tsunami merusak. Pada 12 Desember 1991 Tsunami Flores diikuti Tsunami Jawa Timur 1994, Tsunami Biak 1996, Tsunami Sulawesi tahun 1998, Tsunami Maluku Utara 2000 dan Tsunami Aceh Desember 2004, Nias 2005,Jawa Barat 2006 serta Bengkulu 2007. Melihat data tersebut dapat disimpulkan rata-rata hampir 2 tahun sekali tsunami menghantam pantai kepulauan Indonesia. Pada tahun 1883 Indonesia pernah mengalami teletsunami atau tsunami yang berasal dari sumber yang jangkauannya lebih dari 1000 km, jarang terjadi dan memiliki daya rusak tinggi.

InaTEWS

Sistem peringatan Dini Tsunami Indonesia atau Indonesia Tsunami Early Warning System yang disingkat InaTEWS merupakan proyek nasional yang melibatkan berbagai institusi dalam negeri di bawah koordinasi RISTEK termasuk BNPB untuk melaksanakan peningkatan kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat. Pembangunan InaTews juga didukung bantuan dari Negara dan Organisasi donor seperti: Pemerintah Jerman, Cina, Jepang, Amerika, Perancis, Unesco, UNDP, UNOCHA, ISDR, dll.

Untuk beroperasi saat ini telah terpasang 160 unit seismograph, 500 unit akselerograph, dan 140 unit ranet yang dikelola oleh BMKG. Melengkapai hal tersebut BPPT telah memasang 23 pelampung pemantau di laut yang beroperasi di lokasi rawan tsunami di Indonesia.

Implementasi

Saat terjadi gempa, gelombang gempabumi akan direkam oleh jaringan seismograph. Rekaman tersebut akan menentukan lokasi dan kekuatan sumber gempabumi. Apabila analisa menunjukan parameter di atas 7,0 SR dan kedalam 70 km (lokasi Laut) maka National/Regional Tsunami Centre akan mengeluarkan dan menyebarkan peringatan potensi tsunami kepada institusi interface yang selanjutnya akan menindaklanjutinya melalui berbagai media termasuk aktivitas sirine.

Disamping itu, BNPB berperan dalam mengidentifikasi tsunami, menggalang kemampuan para pemangku kepentingan, mengkoordinasi kegiatan tanggap darurat, mitigasi,rehabilitasi dan rekonstruksi serta berkewajuban meyebarluaskan peringatan dini dalam rangka pengurangan risiko bencana.
Dalam penerapannya, saat gempa di Bengkulu pada 12 September 2007, Sirine peringatan terdengar 5 menit setelah gempa terjadi. Pada kesempatan itu masyarakat setempat segera mencari tempat yang lebih tinggi untuk antisipasi tsunami.
Tanpa kesiapsiagaan masyarakat dan aparat terkait, secanggih apapun teknologi pendeteksi bencana tak ada artinya.